Kisah Pangeran Saudi Dipaksa MbS Lepas Gelar Putra Mahkota bak Mafia

Kisah Pangeran Saudi Dipaksa MbS Lepas Gelar Putra Mahkota bak Mafia
Terkuak kudeta kejam bak mafia dilancarkan Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) memaksa sepupunya, Pangeran Mohammed bin Nayef, menyerahkan gelar putra mahkota. 
(Foto: AP/Leon Neal)

arsipsumut.com

Pangeran Arab Saudi Mohammed bin Nayef tak pernah menyangka statusnya sebagai penerus takhta kerajaan bisa lenyap begitu saja hanya dalam semalam.

Pangeran Nayef mengemban gelar Putra Mahkota Saudi pada 2015. Namun, pada Juni 2017, Raja Salman mencopot Nayef, keponakannya, dari jabatan Putra Mahkota dan menggantinya dengan sang anak, Mohammed bin Salman (MbS).

Pada 21 Juni 2017, Press Agency mengkonfirmasi 31 dari 34 anggota Dewan Kesetiaan Arab Saudi memilih MbS sebagai putra mahkota menggantikan Nayef. Sejumlah pihak telah mengendus upaya "kudeta" ini.

Melansir The Telegraph, perubahan suksesi kerajaan Saudi ini juga telah diprediksi sejak Desember 2015 oleh sebuah memo publik yang sangat blak-blakan diterbitkan oleh Badan Intelijen Federal Jerman.

Dalam laporannya berjudul "The Godfather, Saudi-Style: Inside the Palace Coup that Brought MBS to Power", wartawan surat kabar The Guardian Anuj Cophra menceritakan kronologi kudeta yang dilakukan MbS sampai akhirnya bisa merebut gelar kedua terkuat di Saudi setelah Raja.

Baru dua tahun menjabat, Pangeran Nayef, putra dari mendiang Pangeran Nayef bin Abdulaziz Al Saud, dipaksa menyerahkan statusnya sebagai penerus takhta kerajaan kepada sepupunya, MbS, melalui kudeta kejam bak geng-geng mafia.

Menurut sejumlah sumber dari dalam istana kerajaan, Nayef yang merupakan keponakan Raja Salman telah dipaksa mundur sebagai Putra Mahkota Saudi sejak pertengahan 2017. Saat itu, Raja Salman, ayah MbS, sudah menjabat sebagai pemimpin kerajaan.

Sementara itu, MbS menjabat sebagai wakil Putra Mahkota di bawah Nayef. Puncak ketegangan dalam keluarga kerajaan terjadi sekitar awal Juni 2017.

Saat itu, Nayef dan MbS berbeda pendapat soal menangani perselisihannya dengan Qatar. Berbeda dengan pandangan Nayef, MbS dan otokrat regional lainnya tetap memberlakukan blokade terhadap Qatar hingga memutus hubungan diplomatik antara Riyadh-Doha.

Nayef juga memliki masalah dengan Qatar, tapi ia memilih pendekatan diplomasi diam-diam ketimbang pendekatan agresif yang dilakukan MbS.

Di tengah krisis itu, pada 20 Juni 2017, Nayef dipanggil ke istana mewah Raja Salman yang menghadap Ka'bah di Makkah. Menurut sumber dekat dengan Nayef, ketika tiba, sang putra mahkota diminta untuk menunggu di luar terlebih dahulu.

Pangeran Nayef dan sejumlah staf hingga ajudannya yang ikut bahkan dipaksa menyerahkan seluruh gadget seperti ponsel dan laptop yang dibawa sebelum masuk istana. Hal itu dilakukan demi mencegah kebocoran informasi.

Sementara itu, seorang anggota senior keluarga kerajaan yang ingin memasuki istana setelah Nayef bahkan dicegat.

Setelah masuk istana, Nayef disebut diantar ke sebuah ruangan dengan orang kepercayaan MbS, Turki al-Sheikh, yang terkenal kasar dan mengintimidasi.

Sheikh disebut mengurung Nayef di ruangan selama berjam-jam, memaksanya untuk menandatangani surat pengunduran diri sebagai putra mahkota dan berjanji setia kepada MbS.

Awalnya, Nayef dikabarkan menolak. Menurut salah satu sumber yang dekat dengan sang pangeran, Nayef diancam jika tak menyerahkan gelarnya, anggota keluarga perempuannya akan diperkosa.

Selama dikurung, Nayef juga tak bisa mengkonsumsi obat-obatnya untuk hipertensi dan diabetes yang dideritanya. Tangan kanan MbS bahkan mengancam Nayef akan berakhir di rumah sakit jika tak kunjung menuruti keinginan bosnya.

Sumber keluarga kerajaan menuturkan Nayef sampai menolak minum air karena sangat takut diracun pada malam itu.

Selama dikurung, Nayef juga tak diizinkan berbicara dengan dua pangeran Saudi di Dewan Kesetiaan, badan yang meratifikasi suksesi takhta kerajaan.

Nayef akhirnya menyerah dengan rasa cemas dan lelah menjelang fajar. Dia lalu diminta masuk ke ruangan sebelah, di mana MbS telah menunggunya.

MbS terlihat mendekati sepepunya dan membungkuk serta mencium tangan juga lutut Nayef.

"Ketika saya berjanji setia, ada senjata di punggung saya," tulis Nayef setelah bebas dalam sebuah pesan teks kepada salah satu penasihatnnya.

Setelah keluar dari istana Raja Salman itu, Nayef merasa janggal lantaran ajudan-ajudan pribadinya yang selalu mengikutinya kemana-mana menghilang.

Nayef dituntun ajudan istana ke sebuah mobil yang membawanya keluar kompleks kerajaan.

Dalam perjalanannya menuju istananya di Jeddah, Nayef dengan panik mengirim sejumlah pesan kepada orang-orang kepercayaannya.

"Hati-hati sekali! Jangan kembali (ke istana)," kata Nayef kepada salah satu penasihatnya yang diam-diam sudah kabur beberapa pekan sebelum kudeta terjadi.

Ketika Nayef sampai di kediamannya, dia melihat banyak pasukan keamanan asing yang menjaga istananya.

Saat itu pula, Nayef sadar bahwa dia kini tengah menjadi tahanan rumah.

Beberapa hari setelahnya, Nayef sudah tak muncul lagi di publik. Poster dan foto Nayef juga dicopot dari gedung-gedung publik dan pemerintahan.

MbS pun secara efektif memegang gelar putra mahkota Saudi, orang paling berkuasa di Saudi ketika ia berusia 31 tahun.

Raja Salman memang tetap menjadi kepala negara Saudi, namun MbS menjadi penguasa yang menjalankan roda pemerintahan sehari-hari dengan kendali mutlak atas semua tuas.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال