Gempa Susulan di Cianjur 191 Kali, Korban Jiwa Ditemukan 271

Gempa Susulan di Cianjur 191 Kali, Korban Jiwa Ditemukan 271
Pengungsi akibat gempa bumi magnitudo 5,6 berada dalam tenda terpal di Desa Ciputri, Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Rabu 23 November 2022. Sebanyak 2.000 warga di kawasan tersebut mengungsi di tenda karena hampir 80 persen rumah rusak serta masih seringnya potensi gempa bumi susulan. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

arsipsumut.com

Lokasi gempa Cianjur masih terus bergetar sampai pagi ini. Plt. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan gempa susulan telah terjadi sebanyak 191 kali.

“Update susulan gempa bumi Cianjur M5.6 hingga 24 November 2022 pukul 06.00 WIB terjadi 191 kali gempa dengan magnitudo terbesar M4.2 dan magnitudo terkecil M1.2, tren meluruh,” cuit Daryono pada akun media sosial pribadinya.

Sedikit mundur ke belakang, pada hari Rabu, 23 November 2022, pukul 21 tercatat 176 kali gempa susulan, sementara pada siang hari pukul 12.30 tercatat 169 kali.

Untuk korban akibat gempa Cianjur, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengumumkan adanya kenaikan jumlah korban yang ditemukan tewas.

Kepala BNPB Suharyanto mengatakan, berdasar data temuan BNPB pada Rabu, 23 November 2022, total jumlah korban meninggal dunia yang telah ditemukan adalah 271 orang.

Jumlah total korban yang ditemukan oleh BNPB hari ini ada empat orang. Dari keempat orang tersebut, tiga meninggal dunia sementara satu orang masih hidup.

"Data tersebut dihimpun dari laporan-laporan yang masuk sampai pada pukul 17.00 WIB tadi," kata Suharyanto dalam konferensi pers.

Daryono menjelaskan gempa Sukabumi-Cianjur ini merupakan jenis gempa tektonik kerak dangkal atau shallow crustal earthquake yang dipicu aktivitas sesar aktif pada zona sistem Sesar Cimandiri. Sesar Cimandiri terdiri atas tiga segmen sesar aktif, yaitu segmen Cimandiri di selatan, segmen Nyalindung-Cibeber di tengah dan segmen Rajamandala di utara.

Ia  juga menjelaskan alasan magnitudo 5,6 namun berdampak besar hingga banyak korban jiwa, terluka dan bangunan yang roboh. “Pertama karena kedalaman gempa yang dangkal,” tulisnya.

Faktor kedua karena struktur bangunan yang tidak memenuhi standar aman gempa. Hal terakhir adalah lokasi pemukiman berada di tanah lunak atau local site effect - efek tapak dan perbukitan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال