Usai Usik Ukraina, Elon Musk Nilai Taiwan Mesti 'Menyerah' ke China

Usai Usik Ukraina, Elon Musk Nilai Taiwan Mesti 'Menyerah' ke China
Usai membuat marah Ukraina karena dinilai dukung invasi Rusia, Elon Musk kini menganggap Taiwan harus menyerahkan sebagian kendalinya di wilayah itu ke China. (Foto: AFP/ROBYN BECK)

arsipsumut.com

Bos Tesla sekaligus miliarder Elon Musk kembali memicu kontroversi dengan menganggap Taiwan harus menyerahkan sebagian kendalinya di wilayah itu kepada China.

Dalam wawancara dengan Financial Times yang dilansir Jumat (7/10), Musk menilai pembentukan zona administrasi khusus untuk Taiwan menjadi jalan terbaik menyelesaikan ketegangan antara Beijing dan Taipei.

"Saran saya adalah untuk mengusahakan zona administrasi khusus untuk Taiwan, ini cukup bagus, tapi mungkin tidak akan membuat semua pihak bahagia," kata Musk, salah satu orang terkaya di dunia itu.

Ketegangan China dan Taiwan memang terus memanas sejak sejumlah politikus dan pejabat tinggi Amerika Serikat berkunjung ke Taipei.

China menganggap Taiwan sebagai wilayah pembangkang yang kekeh ingin memerdekakan diri darinya. Beijing pun menilai setiap pejabat asing yang datang ke Taiwan berarti mendukung wilayah itu untuk merdeka dan melanggar kedaulatannya.

Sejumlah pihak juga khawatir jika ketegangan China dan Taiwan terus berlanjut, salah perhitungan dapat memicu konflik terbuka baru setelah invasi Rusia ke Ukraina berlangsung dan menyebabkan krisis global.

Musk pun percaya bahwa jalan satu-satunya meredakan ketegangan di Selat Taiwan adalah menjadikan sebagian wilayah Taiwan menjadi wilayah administratif China seperti di Hong Kong.

"Dan itu mungkin saya pikir mungkin dapat memiliki pengaturan yang lebih lunak dari Hong Kong," ujar Musk seperti dikutip Reuters.

Badai media sosial yang mengikuti proposal perdamaian untuk Ukraina seolah tidak memengaruhi miliarder Elon Musk.

Bos SpaceX dan Tesla tersebut telah menawarkan saran tentang bagaimana menghindari konflik antara China dan Taiwan. Ia menyarankan konflik tersebut dapat diselesaikan dengan menyerahkan sebagian kendari Taiwan kepada Beijing.

Musk membuat pernyataan itu ketika ditanyakan tentang China, di mana perusahaan mobil listrik Tesla-nya memiliki pabrik besar di Shanghai.

Pabrik Tesla di Shanghai menyumbang sekitar setengah dari pengiriman global Tesla tahun lalu.

Musk mengatakan dia telah memperhitungkan bahwa konflik terhadap Taiwan tidak dapat dihindari dan memperingatkan dampak potensialnya tidak hanya pada Tesla, tetapi juga pada perusahaan yang punya pabrik di China seperti iPhone Apple Inc dan ekonomi yang lebih luas.

Belum lama ini, Musk bersitegang dengan sejumlah pejabat Ukraina termasuk Presiden Volodymyr Zelensky gara-gara kicauannya di Twitter yang dianggap mendukung Rusia.

Pertengkaran disulut oleh gagasan yang disampaikan Musk supaya invasi Rusia di Ukraina bisa segera diatasi. Gagasan damai yang disampaikan Musk melalui akun twitternya itu cukup kontroversial.

Musk memicu kontroversi dengan membuka polling di akun Twitternya yang menggiring 107,7 juta pengikutnya untuk memilih apakah warga Ukraina seharusnya menggelar referendum yang memutuskan apakah mereka ingin tinggal atau bergabung dengan Rusia.

Selain itu, Musk juga menganggap Ukraina tidak akan menang dalam memerangi invasi Rusia lantaran jumlah populasi Rusia tiga kali lebih besar dari Ukraina.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال