Pemimpin Chechen: Rusia Harusnya Pakai Senjata Nuklir di Ukraina

Pemimpin Chechen: Rusia Harusnya Pakai Senjata Nuklir di Ukraina
Pemimpin Chechen, Ramzan Kadyrov, mengatakan Rusia seharusnya mempertimbangkan menggunakan senjata nuklir setelah pasukan Ukraina merebut kota di Donetsk. (AP)

arsipsumut.com

Pemimpin Chechen, Ramzan Kadyrov, mengatakan bahwa Rusia seharusnya mulai mempertimbangkan menggunakan senjata nuklir setelah pasukan Ukraina berhasil merebut satu kota kunci di Donetsk.

"Pendapat pribadi saya, perlu tindakan lebih drastis, hingga deklarasi darurat militer di wilayah perbatasan dan penggunaan senjata nuklir berdaya rendah," ujar Kadyrov melalui Telegram, seperti dikutip AFP, Sabtu (1/10).

Kadyrov kemudian menyindir kondisi pasukan Rusia yang menurutnya kacau balau. Kekacauan itu membuat pasukan Ukraina berhasil merebut Lyman, kota kunci di Donetsk, kawasan yang sebenarnya baru dicaplok Rusia.

Ia menyinggung seharusnya "tak ada nepotisme di dalam tentara" Rusia. Dia lalu menyebut pemimpin pasukan Rusia di Lyman, Kolonel Jenderal Alexander Lapin "medioker."

Menurutnya, Lapin tak menyediakan wadah untuk "komunikasi dan interaksi yang penting, juga pasokan amunisi." Akibat kekacauan ini, pasukan Rusia harus angkat kaki dari Lyman.

Kadyrov sendiri mengirimkan pasukannya untuk membantu Rusia menginvasi Ukraina. Ia sudah beberapa kali mengkritik strategi perang Rusia, hingga akhirnya Lyman kembali ke tangan Ukraina.

Kota itu jatuh ke tangan Ukraina hanya berselang sehari setelah Rusia mencaplok empat wilayah di negara itu, yaitu Donetsk, Luhansk, Kherson, dan Zaporizhzhia.

Rusia mendeklarasikan pencaplokan setelah keempat wilayah itu menggelar referendum. Hasil referendum menunjukkan mayoritas warga ingin bergabung dengan Negeri Beruang Merah.

Lyman sendiri terletak di utara Donetsk. Sebenarnya, Rusia hanya menguasai sebagian Donetsk ketika referendum digelar pekan lalu. Sebagian warga Donetsk pun mengaku sejatinya tak mau bergabung dengan Rusia.

Di kancah global, hasil referendum dan pencaplokan ini tak diakui. Amerika Serikat sampai-sampai menjatuhkan sanksi terhadap Rusia.

Sejumlah pengamat menganggap Presiden Vladimir Putin buru-buru mengadakan referendum dan mencaplok keempat wilayah di timur hingga selatan Ukraina itu karena mulai terdesak.

Belakangan, Ukraina memang kian garang. Hingga akhirnya, Ukraina menang besar ketika berhasil merebut Kharkiv, kawasan yang berbatasan langsung dengan Donetsk, di mana kelompok separatis pro-Rusia bercokol.

Dengan pencaplokan ini, Rusia dapat berdalih bahwa keempat wilayah tersebut kini merupakan bagian dari kedaulatan mereka. Mereka pun dapat menyerang Ukraina jika macam-macam di keempat wilayah itu.

Beberapa pengamat lain juga menganggap tujuan utama Rusia mencaplok keempat wilayah itu adalah untuk merekrut lebih banyak tentara cadangan melalui aturan wajib militer.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال