Kroni Putin: Taiwan Akan Kembali ke Pelukan China Sesuai Jadwal

Kroni Putin: Taiwan Akan Kembali ke Pelukan China Sesuai Jadwal
Bos perusahaan minyak Rusia ROSN.MM sekaligus sekutu terdekat Presiden Vladimir Putin, Igor Sechin, menilai Taiwan akan kembali kepada China sesuai jadwal. 
(Foto: (Maxim SHIPENKOV / POOL / AFP)

arsipsumut.com

Sekutu dekat Presiden Rusia Vladimir Putin, Igor Sechin, meyakini Taiwan akan kembali bersatu dengan China sesuai jadwal.

Bos perusahaan minyak raksasa Rusia ROSN.MM itu turut melontarkan pujian terhadap Presiden China Xi Jinping yang baru-baru ini menetapkan diri memimpin Negeri Tirai Bambu untuk periode ketiganya.

"Posisi kepemimpinan (China) sangat dihormati, yang dengan tenang dan terbuka, tanpa premis palsu, memantapkan posisinya, bahkan pada masalah yang paling sulit, seperti masalah Taiwan, yang dalam hal ini dapat dinilai agak berlebihan," kata Sechin dalam forum ekonomi internasional di Baku pada Kamis (27/10).

"Taiwan akan kembali ke pelabuhan aslinya (China) tepat waktu," ucapnya lagi dikutip Reuters.

Sechin juga mengatakan hasil Kongres Partai Komunis ke-20 pekan lalu yang mengukuhkan posisi Xi Jinping sebagai pemimpin China paling kuat sejak Mao Zedong akan menjadikan Negeri Tirai Bambu semakin maju. Dalam kongres itu, Xi Jinping memantapkan periode ketiganya sebagai presiden.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Taiwan mengutuk komentar Sochin tersebut. Taipei menegaskan hanya negara dan rakyat Taiwan yang boleh memutuskan masa depan mereka.

"Baik pemerintah, rakyat, maupun komunitas internasional tidak dapat menerima pernyataan tidak masuk akal dan merendahkan status kedaulatan Taiwan," bunyi pernyataan Kemlu Taiwan.

Eskalasi antara China dan Taiwan terus memanas tahun ini. China semakin getol melancarkan manuver militer yang provokatif di sekitar Taiwan.

Dalam Kongres PKC kemarin, Xi Jinping juga menegaskan China menolak seruan Taiwan merdeka. PKC sepakat mengamandemen piagam partai yang mencakup penolakan terhadap kemerdekaan Taiwan.

"Dengan tegas menolak dan menahan kemerdekaan Taiwan," demikian bunyi piagam yang sudah diamandemen.

China mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sementara pulau itu gigih ingin memerdekakan diri.

Beijing bahkan menyatakan akan melakukan segala cara, bila perlu dengan paksa, untuk mempertahankan Taiwan. Mereka juga kerap mengintimidasi Taipei dengan mengerahkan jet tempur ke wilayah Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) pulau itu.

Amerika Serikat juga memprediksi China bisa melancarkan invasi ke Taiwan dalam waktu dekat.

Kepala Operasi Angkatan Laut AS Michael Gilday berpendapat bahwa pidato Presiden China Xi Jinping di Kongres Partai Komunis China (PKC) ke-20 menunjukkan sikap Negeri Tirai Bambu atas pemisahan Taiwan.

"Itu bukan hanya sesuatu yang disampaikan Presiden Xi, tetapi itu terkait bagaimana sikap China dan apa yang mereka lakukan. Apa yang kita lihat selama 20 tahun terakhir adalah mereka melakukan setiap janji yang mereka ucapkan sebelumnya," kata Gilday, dikutip dari South China Morning Post.

Gildan kemudian berkata, "Jadi ketika kita membicarakan soal periode waktu [penyerangan] pada 2027, di pikiran saya, itu terjadi pada 2022 atau 2023. Saya tidak bisa mengesampingkannya."

Sementara itu, China dan Rusia merupakan sekutu. Hubungan kedua negara bahkan semakin erat sejak Rusia melancarkan invasi ke Ukraina. Sampai saat ini, China tak pernah mengecam invasi Rusia ke Ukraina apalagi menjatuhkan sanksi terhadap Negeri Beruang Merah.

AS dan sekutu terus mengkritik dan menekan China agar tidak memberikan "dukungan diplomatik" terhadap kelakuan Rusia, sesuatu yang dibantah Beijing.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال