Wanita Ukraina Ini Tersangka Bom Mobil yang Tewaskan Putri Si 'Otak Putin'

Wanita Ukraina Ini Tersangka Bom Mobil yang Tewaskan Putri Si 'Otak Putin'
Natalia Shaban-Vovk (43), wanita Ukraina, ditetapkan sebagai tersangka serangan bom mobil yang tewaskan putri dari ideolog ultranasionalis Rusia Alexander Dugin di pinggiran Moskow. Foto/Russia Today

arsipsumut.com

Seorang wanita Ukraina ditetapkan sebagai tersangka serangan bom mobil yang menewaskan Darya Dugina (29), putri ideolog utra-nasionalis Rusia Alexander Dugin. 

Alexander Dugin, yang berambisi menyatukan negara-negara berbahasa Rusia menjadi satu kekuatan baru, dijuluki media-media Barat sebagai "otak Putin". Namun, dia bukan bagian dari pemerintah Presiden Vladimir Putin. 

Dinas Keamanan Federal (FSB) Rusia telah merilis foto tersangka serangan bom mobil pada Sabtu malam lalu. Tersangka bernama Natalia Shaban-Vovk (43), merupakan wanita asal Mariupol, Ukraina. 

Shaban-Vovk telah memiliki satu anak perempuan berusia 12 tahun. Ibu tersangka telah dituduh sebagai anggota Batalyon Azov Ukraina, sebuah resimen para militer yang dianggap berhaluan neo-Nazi.

FSB mengeklaim bahwa Shaban-Vovk telah menyewa sebuah apartemen di gedung yang sama tempat Dugina tinggal, dan merencanakan operasi selama beberapa minggu sejak kedatangannya di Rusia pada 23 Juli 2022. 

Untuk memantau Dugina, dia menggunakan Mini Cooper, saat memasuki Federasi Rusia. Dia menggunakan mobil berpelat nomor Republik Rakyat Donetsk (DPR). 

Sumber polisi Rusia mengatakan mobil yang dinaiki Dugina meledak dan terbakar setelah 400 gram TNT dipasang di bawah jok depan. "Diledakkan dari jarak jauh," kata sumber polisi, seperti dikutip The Mirror, Selasa (23/8/2022). 

Tersangka dilaporkan telah melarikan diri ke Estonia, negara anggota NATO. 

Pemimpin Russia Today, yang dianggap sebagai propagandis Rusia, Margarita Simonyan, mendesak agen-agen rahasia Moskow untuk melacak tersangka di Estonia.

"Pembunuh Dasha [Darya] sudah ada di Estonia," katanya. 

"Estonia tidak akan--tentu saja--mengekstradisi," ujarnya. 

“Saya pikir kami memiliki cukup banyak profesional yang ingin mengagumi menara di sekitar Tallinn.” 

Sementara itu, Alexader Dugin (60) menuntut "lebih dari sekadar balas dendam atau pembalasan" atas kematian putrinya. 

Dia bersikeras Rusia harus menang dalam perang melawan Ukraina. 

“Sebagai akibat dari serangan teroris yang dilakukan oleh rezim Nazi Ukraina, pada 20 Agustus, ketika kembali dari festival di dekat Moskow, putri saya Darya Dugina dibunuh secara brutal oleh ledakan di depan mata saya," katanya. 

“Dia adalah seorang gadis Ortodoks yang cantik, seorang patriot, seorang koresponden militer, seorang ahli jaringan pusat, dan seorang filsuf," imbuh dia.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال